Dangau Sufi

Tempat Berteduh bagi Para Pencari Tuhan

Kapitalis CS Komunis

Sepanjang siang tadi saya menghabiskan waktu berkumpul dengan teman-teman Korea yang baru saya kenal. Ada Ha Chae Jung alias Jasmin, ada Park Soon Hee alias Suny, ada Song Mee Sun alias Sanny. Eh jangan heran ya kalau mereka punya nama alias. Kebanyakan perempuan muda korea sepertinya sadar kalau nama Korea mereka agak susah disebut oleh lidah asing, makanya mereka juga menyiapkan nama  internasional, ini istilah saya saja. Kita bicara banyak hal juga melakukan banyak hal. Makan siang bersama, memasak, berbagi cerita soal anak dan pengalaman sewaktusewaktu gadis juga harapan dimasa depan. Waduh menyenangkan sekali berada bersama mereka sejenak mengurai kebosanan dan rutinitas. Mereka para ibu muda dari masyarakat kelas menengah. Suami-suami mereka bekerja di perusahaan dengan jabatan setingkat menejer. Tetapi mereka tidak bekerja di luar rumah tetapi hanya mengurus anak. Rata-rata punya anak dua dan masih balita. Mereka berkeyakinan mengasuh anak lebih baik dari pada bekerja dan menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain. Bagi mereka anak adalah masa depan karena itu terlihat sangat total. Rata-rata apartemen mereka yang luasnya sekitar 12×10 meter itu penuh dengan berbagai permainan anak. Saya berpikir mungkin permainan anak itu juga permainan yang mengasikkan bagi mereka. Membeli mainan untuk anak juga permainan untuk ibunya agar tidak bosan. Karena walaupun mereka sadar mengasuh anak adalah tanggungjawab utama para ibu namun sering saya tangkap kata-kata bosan dan keluhan dari bibir mereka. Yea, biasalah.

Kita bicara soal berbelanja, makanan, sauna dan gaya hidup konsumtif turunan budaya kapitalis (?) lainnya. Tetapi di rumah Jasmin saya sempat terpaku menatap photo seorang anak Banglades. Lalu saya tanya Jasmin, Who Is She? Ternyata anak angkatnya. Menurut mereka, masing-masing keluarga yang merasa mampu akan mengangkat anak. Mereka anak-anak kurang mampu dari berbagai negara. Ada yayasan sosial yang mengelolanya. Mereka cukup memberikan sedikit dari gajinya, minimalnya 10.000 won (Rp80.000) setiap bulan untuk anak-anak itu lewat yayasan tersebut. Sunny, Sanny dan yang lain juga punya anak angkat. Kata mereka walau gaji suami tidak terlalu besar bahkan pas-pasan saja tetapi membantu sedikit untuk kemanusiaan adalah hal yang membahagiakan. Waduuh, saya sungguh malu karena saya tidak punya anak angkat seperti mereka. Sikap kemanusiaan itu timbul saya pikir bukan karena dorongan agama, toh Jasmin mengaku atheis. Katanya itu karena budaya orang Korea yang suka berbagi. Di rumah Sunny saya juga dihadapkan pada budaya suka berbagi tersebut. Satu ketika ada yang mengantarkan baju bekas satu kardus besar. Masih bagus tapi sudah tidak terpakai lagi. “Tidak baik menyimpannya di rumah. Mungkin akan bermanfaat kalau dibagikan kepada teman-teman.” Begitu kata yang memberi. Lalu baju tersebut dipilih bersama-sama. Siapa suka boleh mengambilnya.

Ketika berjalan pulang, dan memikirkan lagi kejadian hari tadi, ada kesimpulan kecil dalam kepala saya: Selain kapitalisme ala Amerika, mungkin inilah tradisi komunis yang terwariskan dibumi jajahan Cina ini, sama rasa

Atau kesimpulan ini hanya untuk menutupi rasa malu saya sebagai seorang muslim yang ajaran agamanya sarat dengan teori kemanusiaan tetapi sangat susah untuk menjadi humanis. Hehe….

Desember 16, 2008 Ditulis oleh kabati | cerbikan pengalaman | | 1 Komentar