Sekolah di Korsel
Tulisan ini saya downloads dari Asia calling lo….
Bila sebagian besar lulusan sekolah menengah Korea Selatan berlibur selama beberapa bulan sebelum masuk universitas, ada juga yang menghabiskan liburan mereka dengan belajar.
Banyak pelajar memilih untuk mengasingkan diri mereka di sekolah yang disebut ‘cram school’ atau sekolah persiapan sebelum masuk perguruan tinggi.
Sekolah ini berlangsung tujuh hari seminggu, tanpa libur.
Tapi semua waktu dan uang yang dihabiskan untuk pendidikan ini mungkin tak ada artinya begitu para pelajar masuk ke dunia kerja.
Dari Gwangju, di luar kota Seoul, Jason Strother menyajikan kisahnya. Dibacakan Sutami.
Pepohonan menutupi pegunungan yang mengelilingi Akademi Etoos di kota kecil ini. Lapangan bola basket di luar perpustakaan sekolah sepi. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi jangkrik. Ini adalah tempat yang tepat untuk belajar.
Gu Young Ju, 18 tahun, telah menghabiskan enam semester dari total 10 semester di sekolah itu. Menurut dia, jadwalnya sangat padat, nyaris tak tersisa waktu untuk tidur.
“Saya bangun pukul 6.30 setiap pagi, setelah itu olahraga dan jam bebas sampai pukul 8. Kelas dimulai pukul 9. Setelah makan siang, masuk kelas lagi. Ada juga kelas malam. Setelah itu saya belajar sendiri sampai sekitar tengah malam, baru tidur.”
Di dalam perpustakaan, para pelajar duduk diam dalam ruang-ruang bersekat, seperti tertimbun di antara tumpukan buku.
Ada beberapa aturan yang sangat ketat di sekolah ini. Pelajar bisa dikeluarkan jika menggunakan telfon genggam atau bahkan sekadar mendengarkan musik.
Direktur Etoos, Lee Seung Ho, mengatakan ini membuat sekolahnya tampak seperti kamp pelatihan calon tentara.
Beberapa orang menyebut tempat ini seperti Sparta, penjara atau pangkalan militer, tambah Lee. Tapi menurut dia, ini sekadar ingin menciptakan suasana supaya para pelajar bisa fokus belajar. Lee bahkan mengaku mereka cukup liberal.
150 pelajar yang ada di Etoos tidak punya nilai yang cukup pada ujian masuk perguruan tinggi nasional, untuk bisa masuk pilihan favorit mereka.
Di Korea Selatan, diterima di universitas ternama tak hanya prestasi bagi si pelajar namun sekaligus mencerminkan prestasi keluarganya.
Lee menjelaskan mengapa orangtua di Korea mau membayar lebih dari 180 juta rupiah untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolahnya.
Ia mengatakan pelajar di Korea harus mengikuti tes agar bisa masuk universitas. Masuk ke universitas akan menaikkan status sosial dan membantu mendapatkan pekerjaan yang baik.
Tapi, walau mereka sering sekali belajar, mengacu ke banyak laporan, kualitasnya justru rendah.
Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum menempatkan pendidikan tinggi di Korea Selatan pada posisi ke-60. Survei lain yang dilakukan Institut Pengembangan Manajemen Internasional dari Swedia menempatkan pendidikan di Korea Selatan di urutan bawah, dalam mempersiapkan para lulusan untuk bekerja di lahan pekerjaan yang kompetitif.
Kritikus mengatakan, masalah di sistem pendidikan di negeri itu dimulai dari tingkat sekolah dasar.
Tom Coyner, Presiden Soft Landing Consulting di Seoul, mengatakan ujian banyak dilakukan dengan cara pilihan ganda, seperti ujian masuk perguruan tinggi. Ini mengekang kreativitas dan kemampuan berpikir kritis anak-anak Korea.
“Dalam hal ini ada kebutuhan untuk tak membuang waktu mencari alternatif jawaban lain. Tapi hanya fokus ke mencari satu jawaban yang benar, dan itu terjadi secara konsisten. Mental seperti ini yang terus terbawa sampai ke tingkat universitas.
Coyner menambahkan, banyak perusahaan Korea yang mewajibkan lulusan universitas untuk mengambil ujian dengan jawaban pilihan ganda saat melamar pekerjaan.
Titik berat pada ujian standar seperti ini, pada akhirnya, membuat orang Korea kurang bisa berkompetisi di panggung dunia.
Menurut Conyer perhatian yang lebih pada pembentukan cara berpikir kritis akan membantu mendorong perekonomian Korea.
“Saya tidak bilang bahwa kemampuan individu Korea lemah dalam hal ini. Kadang malah mereka punya kemampuan individual yang sama atau lebih baik. Tapi dalam organisasi, mereka tidak diberi ruang untuk melatih kemampuan ini, karena sistemnya tidak mengizinkan.
Direktur sekolah, Lee Seung Ho, setuju adanya ruang untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional. Menurut dia, para pelajar menyadari bahwa tes tidak secara akurat mengukur pengetahuan mereka.
Menurut Lee, ujian seharusnya dibuat lebih obyektif, sehingga murid merasa lebih percaya diri akan hasil yang dicapai. Jika ingin membuat perubahan pada sistem pendidikan, maka pelajar akan menerima bahwa kemampuan mereka sudah dinilai secara adil.
Baru-baru ini, bagian esai baru saja ditambahkan dalam ujian kemampuan menulis. Presiden Lee Myung Bak telah mengusulkan perubahan dalam cara universitas menerima mahasisa baru. Tapi ini masih harus menghadapi perlawanan dari serikat guru.
Pelajar sekolah Etoos, Gu Yeong Ju mengaku masih ada tiga bulan lagi untuk mempersiapkan diri untuk kedua kalinya mencoba masuk ke universitas.
Tapi ia mengatakan, jika ia tidak mendapat nilai yang cukup untuk masuk ke sekolah impiannya kali ini, ia tak mau kembali ke cram school atau sekolah persiapan ini.
“Itu tergantung nilai saya. Kehidupan sekolah di sini sangat melelahkan. Saya tak tahu apa bisa kembali untuk kedua kalinya. Jadi, saya akan masuk universitas yang berbeda dan belajar sungguh-sungguh di sana.”
Bunuh Diri di Korea
Suka film or drama Korea?Wah pasti banyak yang suka ya. Apa lagi Hello! Miss (hello!my Lady) yang diangkat dari novel Kimchi Mandu karya Park Young Sook adalah salah satu yang paling digemari orang Indonesia. Lee Young Ae, pemeran serial drama klasik Jewel in the Palace (Dae Jang Geum) juga menjadi artis yang dipuja. Bahkan dramaPrincess Hours sempat diputar berulang-ulang di Indosiar.
Saya sih nggak suka-suka amat. Tetapi memang mereka pandai berakting dan memainkan perasaan penonton yang melankolis. Walau pada realitasnya banyak nggak benar nya lo. Laki-laki Korea nggak banyak romantisnya. Kawan-kawan saya yang ibu-ibu itu sering cerita bagaimana kasarnya suami-suami di Korea. Mereka suka marah. Ketika mereka tahu suami saya senang membantu pekerjaan rumah, memasak dan ikut berbelanja ke pasar mereka heran. Dan pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya adalah: Suami tak marah???
Tingkat stress di Korea memang tinggi dan itu banyak dialami laki-laki. Wajib militer, tanggungjawab material untuk keluarga dan aktifitas yang menuntut gerak cepat membuat banyak orang Korea mudah panik dan stres, lalu ujung-ujungnya bunuh diri.
Kalau mau bunuh diri datanglah ke Korea. Disini selalu ada musimnya. Jadi di negara ini bukan hanya optimistik yang ada tapi kebalikannya juga rame. Dan yang banyak bunuh diri itu laki-laki lo…
Dalam dua bulan ini ada tiga artis yang bunuh diri.
Kata Jung, seorang kawan, bunuh diri memang pilihan yang mudah dibanding harus ikut wajib militer, berkompetensi di dunia kerja atau bertarung merebut hati perempuan.
Hehe Jung memang benar ya. Tetapi dari dulu aku paling benci kata bunuh diri lo. Paham sunni yang ekstrim yang membesarkanku juga mengatakan bahwa bunuh diri itu haram. Bahkan melihat wajah orang yang bunuh dirialah itupun maksiat harus dijauhi. Loteng kamar saya dulu waktu kecil dilem engan kertas koran, agar debu dari pelupuh bambu yang menjadi loteng sebenarnya tidak jatuh ke muka waktu tiur. Nah di salah satu Koran itu tertulis besar-besar b judul sebuah artikel: Bunuh Diri Perbuatan Terlarang Dalam Agama Budha disebut Ngulah Pati.
Tiap malam sebelum tidur, saya selalu membaca tulisan itu. Sampai sekarang saya mengingatnya, bahkan bentuk hurufnya saya hafal dengan baik.
Sebenarnya mau bunuh orang Korea gampang saja: Tekan mereka, kecewakan mereka dan hina harga diri mereka. Karena kalau mereka berhadapan dengan itu maka pilihannya adalah bunuh diri. dan itu artinya kita punya andil membunuh mereka. Tapi jangan ya, agama tidak mengajarkan kita jadi pembunuh.
Tadi malam ada beberapa orang yang makan malam di rumah kami. Kebetulan ulangtahun Lana, anak kami yang ke dua. salah seorang dari yang datang –saya lupa namanya siapa–terlihat layu saja. Saya tanya apakah dia punya rencana liburan akhir tahun?
Dengan lesu di jawabnya, TIDAK! Tidak punya uang…
Waduh, ini anak jangan-jangan tak lama lagi bunuh diri pula…
Semoga pertemuan dengan saya memberinya semangat untuk hidup dan mati dengan wajar. Walau tidak harus menjadi Muslim heheh
Saya tidak mendakwahinya tetapi niat hati hanya berusaha menbuatnya lebih optimis.
-
Arsip
- Mei 2009 (1)
- Februari 2009 (2)
- Januari 2009 (2)
- Desember 2008 (6)
- November 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS