Menggagas Pendidikan ala Marx
Menggagas Pendidikan ala Marx
Saturday, 24 January 2009
SELAMA ini,Karl Marx lebih dikenal sebagai pemikir ekonomi- politik dari pada pemikir pendidikan. Buktinya,sampai saat ini, jarang dijumpai diskursus yang menyandingkan Marx dengan dunia pendidikan.
Padahal, sebagaimana diungkap dalam buku Metode Pendidikan Marxis- Sosialis ini, Marx bukan hanya pemikir ekonomi-politik, tapi juga seorang pemikir pendidikan terkemuka.Bahkan,menurut Nurani Soyomukti, penulis buku ini,Marx adalah pelopor dan peletak dasar teori pendidikan kritis dan pembebasan, bukan Paulo Freire sebagaimana diyakini banyak kalangan.
Dalam konteks pendidikan, Marx menyingkapkan bahwa basis dari gerak sejarah sistem pendidikan dunia ditentukan oleh kapital (ekonomi). Teori ini disebut dengan determinisme ekonomi. Tampaknya,ramalan Marx itu benar, khususnya di Indonesia. Buktinya, regulasi kebijakan pendidikan pemerintah, dalam hal ini Undang- Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), tidak lain me-rupakan penjelmaan perselingkuhan antara dunia pendidikan dengan kepentingan kapital.
UU BHP membuka akses bagi praktek kapitalisme di bidang pendidikan. Lembaga pendidikan saat ini tidak lagi menjadi media transformasi nilai dan instrumen memanusiakan manusia, melainkan menjadi lahan basah bagi para pengelola pendidikan untuk mengeruk keuntungan finansial.
Status birokrat kampus -Rektor dan para stafnya- tidak ubahnya investor yang hanya memikirkan bagaimana kampus bias mendapatkan laba sebesarbesarnya dari peserta didik. Institusi pendidikan saat ini tidak jauh beda dengan pasar. Bedanya,kalau pasar menjual bahan sembako domestik dan kebutuhan rumah tangga yang lain, maka perguruan tinggi menjual jasa pendidikan.
Mulai dari tenaga pengajar (dosen), mata kuliah (SKS), sampai fasilitas-fasilitas kampus yang seper canggih.Dalam kondisi seperti ini, lembaga pendidikan layaknya korporasi yang hanya memikirkan profit. Tidak heran,kalau makin hari biaya lembagapendidikankian melonjak.
Di era modern, mustahil menemukan biaya pendidikan yang bisa dijangkau orang menengah ke bawah. Semakin canggih dan lengkap fasilitas kampus, semakin besar uang yang mesti dikeluarkan peserta didik. Secara historis, bibit kapitalisme dan pragmatisme pendidikan di Indonesia sudah menyeruak pada zaman Soeharto.
Ketika itu, yang menjadi panglima adalah pembangunan.Pertumbuhan ekonomi pada rezim Orde Baru dikejar habis-habisan tanpa memedulikan aspek kemanusiaan. Tak pelak, lembaga pendidikan sebagai media memanusiakan manusia dan penjaga gawang terakhir atas munculnya kaum-kaum terdidik dan bermoral terpasung.
Munculnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), baik yang berkonsentrasi di dunia mesin, listrik, arsitektur, administrasi perkantoran,akuntansi, kesekretariatan maupun berbagai bidang lain,merupakan pemenuhan atas nafsu kapitalisme. Kehadiran SMK diharapkan meluluskan peserta didik yang siap pakai dan sesuai dengan kebutuhan praktis di bidang kerja infrastruktur pembangunan.
Sekolah kejuruan menjadi idaman dan pilihan para orangtua yang ingin yang ingin melihat anaknya cepat mendapat kerja. Penekanan keterampilan teknis seperti ini menyebabkan pendidikan terjerumus dalam pragmatisme. Pragmatisme pendidikan adalah malapetaka besar bagi masa depan kemanusiaan.
Sebab, pragmatisme pendidikan akan melahirkan manusiamanusia yang tidak peka terhadapbobroknya realitaskebangsaan. Pragmatisme pendidikan hanya mencetak generasi yang ingin cepat mendapatkan gelar sarjanadanmemperolehprofesi yang bergengsi.
Buku ini berusaha menggagas dan menjabarkan metode pendidikan berbasis Marxis- Sosialis yang menjadi counterpart atas pendidikan kapitalisme yang selama ini menjadi ideologi sistem pendidikan internasional. Ideologi pendidikan yang digagas Marx adalah bentuk gugatan atas merasuknya budaya kapitalisme dan pragmatisme dalam tubuh pendidikan.
Dalam pendidikan berbasis Marxis-Sosialis, tujuan (ideologi) pendidikan adalah membangun karakter (character building) manusia yang tercerahkan; suatu kondisi mental yang dibutuhkan untuk membangun suatu masyarakat yang berkarakter progresif, egaliter, demokratis, berkeadilan dan berpihak terhadap kaum-kaum tertindas (the oppressed).
Menurut Marx,pendidikan bukan lahan basah untuk merenggut keuntungan, melainkan sebagai instrumen membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi serta menempatkan manusia dalam esensi dan martabat kemanusiaannya yang sejati.
Marx mengidealkan terciptanya pendidikan kritis (critical pedagogy), pendidikan radikal(radical education) dan pendidikan revolusioner (revolutionary education) yang pada gilirannya mampumencetakmanusia yang betul-betul mau memperjuangkan kaum-kaum miskin. Pendidikan yang terjebak pada pragmatisme untuk kepentingan kapitalisme merupakan eksploitasi atas esensi terbentuknya lembaga pendidikan.
Bagi Marx, pendidikan bertujuan menciptakan kesadaran kritis,bukan pengetahuan dan keterampilan teknis yang mendukung proyek kapitalisme. Apa yang diidealkan Marx itu sangat kontras dengan karakter objektif para pelajar bangsa ini.Tidak bisa dibantah, 75 % orientasi pelajar menuntut ilmu adalah untuk mendapatkan kerja bergengsi (profesi),menjadi tokoh populer, menjadi orang kaya, dan untuk mengangkat status sosialnya. (*)
Abdul Khalid Boyan,
Peneliti pada Center for Social and Democracy Studies (CSDS)
Asia sebagai Produsen Kebudayaan
By NURAINI JULIASTUTI
Perkenalan pertama saya dengan drama seri Korea dimulai dari seorang teman yang memperkenalkan saya dengan serial Full House (FH). Dan setelah perkenalan pertama itu, efek pertama yang terjadi adalah menonton secara maraton drama seri itu sampai habis (seluruhnya 13 episode) dalam waktu dua malam.
Masih segar diingatan ketika tahun 2002, serial Meteor Garden (MG) menjadi drama Taiwan yang paling tenar di negeri ini. Setelah itu mulailah banjir drama Asia di televisi kita. Meskipun jauh sebelumnya kita sudah mengenal era kejayaan film Hongkong dengan genre film laga/kungfu lewat televisi, video atau bioskop. Ingatlah jaman Bruce Lee dan Jackie Chan. Selain Hongkong, film-film India juga tidak pernah absen, dari dulu sampai kini selalu hadir dalam jagat dunia hiburan di Indonesia, dan di bagian-bagian dunia yang lain.
Tapi MG bisa dikatakan membawa tonggak genre baru drama Asia dalam dunia tontonan di Indonesia. MG dianggap penting karena memunculkan diskursus tentang ‘Asia’, dan bisa mendorong masyarakat untuk berpartisipasi meniru ke-Asia-an seperti yang muncul dalam serial tersebut dalam kehidupan sehari-hari (katakanlah dalam gaya rambut, gaya berpakaian, riasan wajah, dsb).
Melihat lebih luas, demam itu bukan hanya milik kita. Tapi demam yang sudah melanda seluruh wilayah Asia lainnya. Drama seri Jepang menjadi idola komunitas Cina yang tinggal di Hongkong, Taiwan, Singapura, Malaysia maupun negara-negara barat lain seperti Australia, Inggris dan Kanada (Hu, 2005), drama seri produksi Cina yang dikonsumsi komunitas Cina di seantero dunia (Sun, 2001), drama seri asal Jepang, Taiwan dan Korea yang mempunyai pengaruh luas pada penonton Indonesia dan Malaysia. Tipe drama seri utama yang digemari para penonton tersebut diatas adalah drama seri yang berisi cerita tentang cinta romantis, persahabatan, perjuangan meraih cita-cita dari kaum muda yang tinggal di metropolis Asia (Seoul, Tokyo, Beijing, dsb).
Globalisasi tidak hanya membuka pintu bagi penonton untuk mengkonsumsi Barat, tapi juga membuka kemungkinan untuk mengkonsumsi Asia. Ide dan gagasan tentang modernitas dan kemajuan secara massif diperkenalkan kepada publik lewat berbagai bentuk media massa yang semuanya datang dari Barat. Fenomena baru ini menunjukkan pengalaman atas misalnya bagaimana modernitas dan ide kemajuan itu dirasakan sendiri oleh orang Asia, baik melalui cerita orang Asia yang tinggal di negeri-negeri Barat atau mereka yang tinggal di negara-negara Asia yang lebih maju. Asia yang mengkonsumsi Asia sendiri. Lebih jauh, Asia adalah juga pengirim pesan kebudayaan (a sending culture), yang dalam kasus ini lebih diperhatikan daripada Amerika Serikat atau negara Barat lain (Wilson, 2001).
Esai ini dibuat untuk menelusuri modus sirkulasi atau persebaran film-film Asia di Indonesia. Studi ini diharapkan untuk bisa memberikan kerangka kongkret tentang bagaimana film Asia itu disebarkan, bagaimana ide tentang ‘Asia’ itu dibangun, diakui dan diikuti—sebagai kontestasi atau perbandingan dari ‘Barat’, serta bagaimana akhirnya ke-Asia-an itu dikomodifikasi. Selanjutnya studi ini bermaksud untuk memberi sumbagan analisa atas bagaimana sebenarnya praktek mengkonsumsi atau mengunyah Asia itu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Budaya Bajakan dan Konsekwensi Teknologis
Pada umumnya akses film drama seri Asia di Indonesia dimulai dari siaran di TV-TV swasta. Indosiar sampai saat ini masih merupakan televisi swasta yang merupakan pionir penyiaran drama seri Asia.
Setelah itu barulah penyebarannya dimulai di lapak-lapak VCD/DVD bajakan atau di rental-rental VCD/DVD (asli dan bajakan). Pengamatan terakhir di Video Eazy (sebuah rental VCD/DVD orisinal yang berlokasi di Jalan Brigjend Katamso, Yogyakarta) menunjukkan bahwa saat ini terdapat 150 judul film Asia tersedia di rak. Judul dan jumlah antar rental dan lapak bisa jadi saling bervariasi.
Faktor ketidaksabaran menunggu siaran di televisi yang harus memakan waktu lama karena terpotong jeda iklan membuat banyak penonton memakai jalur potong kompas dengan membeli langsung DVD atau 1 pak koleksi lengkap satu seri drama di lapak VCD/DVD. Selain faktor kecepatan akses, VCD/DVD bajakan juga jauh lebih murah tentu saja jika dibandingkan dengan VCD/DVD asli.
Di Yogyakarta, lapak-lapak penjualan VCD/DVD bajakan ini mengelompok di Jalan Mataram. Beberapa lapak menempati tempat permanen, dan banyak lagi yang membangun tenda-tenda non-permanen di emperan depan toko. Sementara rental-rental VCD/DVD biasanya berlokasi menyatu dengan pondokan para mahasiswa, pemukiman penduduk, atau di pinggir jalan berdampingan dengan bisnis-bisnis yang lain. Di Jakarta, Mal Ambassador dan Ratu Plaza dianggap sebagai pusat lokasi penjualan VCD/DVD bajakan.
Arena penjualan VCD/DVD bajakan atau rental VCD/DVD (baik yang bajakan maupun yang bukan) akhirnya berkembang menjadi salah satu sumber pengetahuan film-film asing bermutu. Karena darinya kita bisa mendapatkan film-film kelas festival film internasional, yang tidak diputar di bioskop-bioskop mapan seperti Studio 21; dan juga gudang untuk mendapatkan film-film Asia yang juga pasti tidak diputar di bioskop dan tidak bisa didapatkan di rental VCD/DVD. Pengetahuan tentang eksistensi aneka festival film internasional kadang juga diawali dari tempat ini: Bavarian Film Award, London Film Festival, Bambi Award, Gerardmer Film Festival, Sundance Film Festival, Cannes Film Festival, Toronto Film Critics Association Award, Golden Globe, Tribeca Film Festival, Heartland Film Festival, Chicago Film Festival, Unicef Award, Slamdance Film Festival, SXSW South by Southwest Film Festival, dsb.
Keikutsertaan suatu film dalam suatu festival film internasional—entah sebagai salah satu nominator atau pemenang festival film—biasanya ditandai dengan penulisan nama-nama festival, berikut prestasi yang diraih, lengkap dengan lambang festival film yang biasanya berupa daun palem atau dua bulir biji gandum. Daun palem dan bulir biji gandum di sampul depan film akhirnya sering dijadikan tanda penentu untuk memilih suatu DVD yang akan dibeli.
Kehadiran budaya menonton VCD/DVD bajakan ini lantas membuahkan pilihan perangkat teknologi yang juga berbeda. Mesin pemutar VCD/DVD produksi Cina konon bisa dipakai untuk memutar semua jenis VCD/DVD (baik asli maupun bajakan) sehingga banyak kalangan memilih untuk membeli pemutar VCD/DVD produksi Cina supaya bisa memutar koleksi film yang dibelinya di lapak-lapak bajakan. Juga pemutar VCD/DVD merek Cina ini juga dianggap lebih bisa diandalkan daripada pemutar VCD/DVD yang ada di komputer. Terdapat sandi-sandi tertentu dalam setiap VCD/DVD yang membuatnya tidak bisa diputar di segala pemutar VCD/DVD. Penjelasan yang lebih memuaskan soal rasionalisasi teknologi dibalik hubungan antara VCD/DVD bajakan dengan pemutar VCD/DVD merek tertentu menuntut penelitian sosial teknologis lebih lanjut.
Membangun Pengetahuan Lokal Asia
Derasnya dominasi lautan informasi dari media massa tentang film-film Hollywood atau film-film Barat yang lain membuat kita merasa lebih mengenal nama-nama sutradara, pemain film atau judul film Hollywood/Barat ketimbang para pelaku dunia film Asia. Popularitas serial MG diikuti oleh penerbitan majalah-majalah hiburan yang berfokus pada bintang-bintang film Asia yang akhirnya juga dipakai untuk melacak jejak riwayat hidup atau karir para bintang film Asia tertentu, atau mencari film-film lain yang juga dibintangi oleh seorang aktris/aktor Asia tertentu.
Praktek mengkonsumsi film Asia bisa diibaratkan seperti petualangan pengetahuan. Medan petualangan itu kita hadapi misalnya saat sedang menghadapi deretan ratusan bahkan ribuan keping VCD/DVD di sebuah lapak. Seorang penjual VCD/DVD biasanya akan mengklasifikasikan barang-barang dagangannya dalam kelompok-kelompok seperti: kartun, horor, aksi, perang, klasik, independen/Eropa, Asia, film baru, new release, serial film Korea, serial film televisi, dsb. Tidak ada patokan khusus dalam klasifikasi ini; seorang penjual bisa menerapkan sistem klasifikasi menurut dirinya sendiri.
Dalam bagian yang bertuliskan ‘film Asia’ misalnya bisa kita jumpai aneka film Hongkong, Korea, Jepang, Thailand, Filipina, atau Singapura. Terdapat kurang lebih 250 judul film Asia tersedia di setiap lapak penjualan. Dan semuanya mempunyai komposisi negara dan judul-judul film Asia yang sangat berubah-ubah, sulit diduga, tergantung dari jalur distribusi para pemasok VCD/DVD bajakan ini, dan menimbulkan kejutan-kejutan tersendiri bagi masyarakat konsumen film.
Teman atau kolega seringkali berperan penting untuk memberikan petunjuk tentang film-film Asia lain, dengan bintang-bintang Asia tertentu, yang pernah mereka tonton, dan mungkin suatu saat hal itu akan kita jadikan sebagai panduan untuk memilih VCD/DVD di suatu lapak atau rental. Pengalaman pribadi: pertama kali kenal nama Kim Rae Won sebagai pemain dalam film lepas “My Little Bride”, lalu meneluri lewat internet dan menemukan bahwa Kim Rae Won juga bermain dalam serial “Cat on the Roof” dan “Love Story in Harvard”.
Atau kita bisa juga memilih suatu film Asia berdasarkan keyakinan atas deskripsi film/serial yang tertulis di bagian belakang sampul film; bisa juga kita akan mencari film berdasar pengalaman menonton atau pengetahuan atas film Asia dari media-media lain yang kita konsumsi. Faktor keberuntungan atau untung-untungan dalam mendapatkan film yang baik juga sangat tinggi mengingat seringkali deskripsi film kadang masih tertulis dalam bahasa Jepang, Cina atau Korea. Bahkan sampul dan judul film pun kadang berbeda dari versi aslinya. Film serial Korea misalnya mempunyai judul asli dalam bahasa Korea, dan judul dalam bahasa Inggris untuk pasar internasional. Pengetahuan baru dari film baru yang kita tonton kemudian bisa disalurkan kepada orang lain, dan akhirnya membentuk pengetahuan lokal atas Asia dan membentuk komunitas tersendiri. Di Indonesia, komunitas penggemar film Asia ini biasanya juga membentuk forum komunikasi sendiri dalam mailing list yang membahas tentang suatu film tertentu.
Dalam studinya atas para fans film Jepang, Kelly Hu memberikan ilustrasi menarik tentang bagaimana komunitas masyarakat Cina penggemar drama seri Jepang yang tinggal di Taiwan, Hongkong, dan komunitas Cina yang tinggal di Australia, Kanada, Amerika, Singapura atau Malaysia, saling berkomunikasi melalui website http://www.dorama.info atau http://www.newsgroup.com.hk untuk mendiskusikan jalan-jalan alternatif untuk mengkonsumsi drama seri Jepang. Beberapa topik pembahasan yang paling sering dibahas adalah pembagian pengetahuan mengenai ‘terjemahan’ dari bahasa Jepang ke bahasa Cina. Para anggota secara sukarela melakukan ‘self subtitling’, dan kemudian memasukkannya ke dalam mailing list supaya bisa diakses oleh para anggota yang lain. Dalam proses ini, terjadilah ruang saling koreksi dan saling bantu dalam penerjemahan; juga terjadi proses pemberian emosi dalam teks-teks dialog yang diterjemahkan. Pada akhirnya kedua website ini berperan penting sebagai ruang ekspresif subkultur penggemar drama Jepang, dan menyatukan komunitas Cina lewat konsumsi dan sirkulasi budaya populer.
Penutup sementara
Sementara itu, di kepala saya terdapat bayangan kelompok penonton keturunan Cina yang ramai-ramai menonton film Gie ketika pertama kali diputar di bioskop Mataram di Yogyakarta tahun 2005 lalu. Bagi para penonton muda yang kebanyakan lahir pada 1970an atau 1980an, Soe Hok Gie, tokoh gerakan mahasiswa Indonesia tahun 1960an itu biasanya dikenal lewat penerbitan buku hariannya “Catatan Harian Seorang Demonstran”. Dan menarik untuk menyaksikan ‘perasaan keterkaitan’ yang seolah hadir mendorong para generasi muda Cina-Indonesia ini untuk menonton Gie; perasaan ingin diidentikkan dengan Soe Hok Gie yang muda, mahasiswa, kritis, pintar, dan sama-sama keturunan Cina-Indonesia.
Contoh yang lain adalah kalangan anak muda keturunan India di Malaysia yang menggeluti bidang musik rap. Too Phat adalah kelompok musik rap yang tidak hanya terkenal di Malaysia, tapi juga di Indonesia dan negara-negara tetangga yang lain. Kita juga bisa menandai asal keterkaitan disana. Musik rap sebagai bagian dari budaya kulit hitam; dan warna kulit yang mempunyai kemiripan antara orang India dan Afro-Amerika. Atau para remaja etnis Roma (gipsi) yang menghuni kota-kota di negara Eropa Timur seperti Budapest yang juga rajin mengkonsumsi musik rap atau hip hop, dan berdandan seperti layaknya para musisi rap keturunan Afro-Amerika.
Apa yang sebenarnya dicari lewat konsumsi film-film Asia ini? Kesamaan-kesamaankah? Lewat studi audiens film Asia bisa diungkap bagaimana sebenarnya sekelompok remaja memaknai serial MG atau serial Asia yang lain dalam kehidupan sehari-harinya (Yuli Andari Merdikaningtyas & Alia Swastika (2003); Yuli Andari Merdikaningtyas (2007); Nuraini Juliastuti (2004)), atau bagaimana penonton perempuan memaknai serial Jewel in the Palace (Dyna Herlina (2007)).
Meski riset etnografis seperti yang dilakukan oleh Merdikaningtyas dan Herlyna ini bisa menjelaskan keragaman bentuk komunikasi yang terjadi antara media dan audiens (bahkan menurut Lull (1998): berpotensi menggali perilaku orang terhadap media yang terlalu beragam!), tetapi saya sendiri merasa sampai pada titik tertentu model riset macam ini kurang memuaskan untuk menjawab pertanyaan lanjutan semacam apakah kemudian perbedaan esensial antara konsumsi film Asia dan Barat, atau atas serial Amerika Latin misalnya. Apakah Asia dikonsumsi sebagai tambahan atau pilihan alternatif kode-kode budaya, diluar Barat yang sebelumnya lebih mendominasi dunia hiburan dan karena itu lebih diakrabi?
Pada tahun 1990, Arjun Appadurai membuat esai yang berusaha menjelaskan faktor-faktor pembentuk keanekaragaman budaya kontemporer yaitu: ethnoscapes, technoscapes, finanscapes, mediascapes, ideoscapes. Appadurai menjelaskan bahwa mediascapes mengacu pada perangkat keras media massa yang mekanis dan elektronik dan citra-citra yang mereka hasilkan, dan digunakan oleh audiens untuk membangun ‘cerita-cerita yang lain’.
Argumentasi ini saya kira bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena orang Asia yang mengkonsumsi Asia sendiri; bahwa ia adalah fenomena dari masyarakat yang selalu penuh hasrat untuk mencari imajinasi-imajinasi dirinya yang berbeda-beda, tetapi untuk konteks Indonesia, ia juga bagian dari politik kebudayaan dan strategi penguasaan pasar dari negara-negara Asia yang lebih mapan yang dijalankan secara sistematis. Pada 2001, dua atau tiga tahun sebelum film Korea meledak di Indonesia, Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta mendorong para mahasiswa untuk belajar bahasa Korea secara gratis di fakultas sastra. Dan ketika jurusan D3 Sastra Korea serta Pusat Studi Korea sudah benar-benar berdiri di universitas itu, tidak ada lagi belajar bahasa gratis. Nyaris hampir bersamaan, Indonesia juga diserbu oleh produk-produk Korea. Dan masyarakat Indonesia pun siap menerima kehadiran film-film Korea.
Untuk sementara, saya cukup puas dengan jawaban itu.
Referensi
- Barker, Chris, Cultural Studies: Teori dan Praktik, Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2005
- Hu, Kelly, The Power of Circulation: Digital Technologies and the Online Chinese Fans of Japanese TV Drama, Inter-Asia Cultural Studies, Volume 6, No 2, 2005
- Juliastuti, Nuraini, Budaya Televisi, Meteor Garden, dan Remaja Perempuan, Jurnal Perempuan No. 37, 2004
- Merdikaningtyas, Yuli Andari & Alia Swastika, Meteor Mimpi, Meteor Garden, Newsletter KUNCI No. 12, Juni 2003

- Merdikaningtyas, Yuli Andari, Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogyakarta, Clea No. 9, Januari 2007 (http://clea.kunci.or.id)
- Sun, Wanning, A Chinese in the New World: Television Dramas, Global Cities, and Travels to Modernity, Inter-Asia Cultural Studies, Volume 2, No 1, 2001
- Wilson, Rob, Korean cinema on the road to globalization: tracking global/local dynamics, or why Im Kwon-Taek is not Ang Lee, Inter-Asia Cultural Studies, Volume 2, No 2, 2001
Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/spec/juliastuti_mengunyahasia.htm
-
Arsip
- Mei 2009 (1)
- Februari 2009 (2)
- Januari 2009 (2)
- Desember 2008 (6)
- November 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS