Muslimah Indonesia
Ini pembicaraan yang terbawa dari kisah perjalanan tadi siang.
Tadi siang saya berbelanja ke kota dengan seorang kawan. Dia perempuan Korea yang dulu pernah tinggal di Indonesia dan belajar bahasa di (BIPA??) UI. Seperti biasanya saya keluar memakai tutup kepala dari wol seperti kebanyakan dipakai orang korea. Sebenarnya di kampung saya, nenek-nenek juga memakainya.Dan saya senang memakai itu tidak jilbab. Tentu saja leher dan beberapa helai rambut saya bisa kelihatan. Teman Korea saya sedikit kaget ketika melihat rambut saya yang keluar. Dia memperbaikinya. “Rambutnya keluar nih. Awas nanti suami marah lo, kan muslim tak boleh begitu?”
Lama saya terdiam memikirkan kata-katanya. Saya tak menjelaskan apa-apa kepadanya soal aurat, jilbab atau Islam. Beberapa saat, setelah memperbaiki penampilan saya, dia nyeletuk lagi sambil tertawa, “Di Korea ndak apa-apa yaaa?”
Pernah juga dia bertanya agama saya dan cepat-cepat mengucapkan assalamualaikum begitu tahu saya Islam. Dan ketika saya bertandang ke rumahnya dan melihat lukisan yesus di dinding ruang tamu agak lama, dengan nada cemas dia bertanya,”Saya katolik, tidak apa-apakan?”
Saya jadi kepikiran juga, seperti apa Islam yang ia kenal yaa??Atau pertanyaannya begini, seperti apa Islam orang Indonesia menurutnya??
Saya kuliah S1 sampai sepuluh tahun baru selesai di IAIN. Saya sangat susah untuk memakai rok panjang karena kegiatan saya yang mengharuskan saya banyak bergerak dan berpindah-pindah. Selain kuliah saya juga harus bekerja. Tetapi peraturan di kampus saya tak memberi toleransi buat pakaian. Perempuan harus memakai rok panjang, titik! Sangat sering saya mengganti pakaian saya di depan gerbang kampus sebelum memasuki kawasan kampus. Bahkan diawal-awal kuliah saya sering menangis memikirkan kenapa saya harus berhadapan dengan dunia pendidikan yang seperti itu. Di rumah saya tidak memakai jilbab dan banyak sekali anak-anak IAIN atau alumninya yang seperti saya. Tentu saja kami akan dibilang tidak bermoral dan tidak menjaga nama baik almamater. Tetapi sungguh tafsiran saya soal aurat bukan berarti memakai jilbab. Ayah saya seorang ulama ‘tradisional’. Dia tidak menganjurkan anak-anaknya untuk pakai jilbab dalam wujud seperti yang umum dipakai orang sekarang. Orang tua saya cuma mengajarkan untuk menutup kepala. Itupun tujuannya jelas agar rambut perempuan kami yang tebal dan rata-rata panjang tidak mudah menjadi kotor atau berdebu. Jadi semenjak kecil saya biasa melihat ibu atau kakak perempuan saya hanya pake selendang atau songkok. Dan saya kemudian juga begitu. Dengan begitu kami sama sekali tidak harus tersiksa kepanasan atau tertusuk-tusuk jarum di kepala. Suami saya bukan dari IAIN (semoga dia menikahi saya bukan karena agama IAIN saya hehe). Kawan-kawannya yang tahu saya dari kampus ‘islami’ itu sering saya lihat terkaget-kaget ketika ke rumah dan saya menemui mereka dengan tidak berjilbab. Bahkan ada mahasiswa, saya pikir mereka dua orang dengan aliran berbeda, sewaktu datang ke rumah, dan ketika saya tinggal ke belakang untuk mengambilkan minuman, saya dengar berdebat soal kenapa saya tak berjilbab. Saya mendiamkan saja dan mereka juga tak bertanya langsung. Bukan hanya kampus, masyarakat dan berlakunya perda pakaian muslimah di sumatera barat juga ikut membangun budaya konservatif ditengah masyarakat minangkabau, khususnya.
Kemaren saya pernah ngomong sama suami, “Kenapa sih jilbab atau pakaian kita yang diurusi pemerintah? Padahal urusan sampah saja di negara kita tidak terbereskan????” Tampaknya pemerintah lebih jijik melihat perempuan tak pake jilbab di banding melihat sampah yang bertebaran dan berbau busuk teronggok di sudut-sudut jalan yaaa
Susahkah Membangun Indonesia?
Saya sering termangu memikirkan Indonesia. Indonesia bukan saja dalam artian sebuah negara dengan segala aturan dan bentuk pemerintahannya, tetapi Indonesia artinya juga adalah saya, keluarga saya, kampung saya, kakek nenek juga anak keturunan saya. Dan bagian yang subjektif belakangan itulah yang lebih banyak merampas pemikiran. Bisakah anak-anak saya nanti menjadi manusia yang cerdas berfikir? sementara saya ibunya yang akan menjadi tauladan bagi mereka hanya seperti ini, seorang yang hanya bisa termangu-mangu? Atau kadang saya seperti ingin marah, kenapa kakek nenek atau buyut tidak membangun peradaban yang baik untuk diwariskan padaku? Kakekku misalnya, lahir pada abad 19. Artinya pada saat itu peradaban di Timur dan barat sudah bertumbuh lama bahkan sudah runtuh dan bangun pula. Bukankah itu bisa dipelajari?Bahkan kawannya seperti Hatta, syahrir atau Tan Malaka sudah mengembara kemana-mana. Mereka satu kampung, tetapi kakekku kok hanya bisa berjualan garam ke Bukittinggi dan Payakumbuh? Kok kakek tidak membangun sebuah sekolah di kampung. Atau sebuah rumah sakit atau setidaknya membangun sebuah rumah yang layak untuk ditempati? Bahkan untuk membuat WC saja di rumah (sampai hari ini) susah. Air sumur juga kuning tak mampu disaring. Akibatnya, aku saudara-saudaraku dan anak keponakanku susah sekali belajar bersih.
Aku pernah menanyakan itu pada ibu. Jawabnya adalah: Saat itu zaman susah nak! kita lebih banyak dicekam ketakutan. Penjajah membuat kita penakut.Aku berusaha mati-matian memahami suasana waktu itu. Kubaca buku sejarah (yang akhirnya pula kutahu banyak bohongnya), sepertinya suasana memang tidak kondusif. Tapi ketika kupelajari suasana dalam novel-novel, tidak melulu penjajah yang bersalah. Mereka membangun kota, membuat jalan-jalan, membuat irigasi, membuat sekolah juga. Walau entah untuk kepentingan apa, yang jelas mereka sudah memperkenalkan peradaban baru. Rasa takut, malas, prasangka,iri dengki, rakus dan sederet sifat jahat manusialah kadang yang menghambat kemajuan itu. Lalu kenapa sifat-sifat buruk itu ada dan berkuasa?
Kata Al-ghazali, itu karena manusia sesungguhnya adalah hewan. Dan berfikirlah yang membuatnya menjadi khalifah. Dan rupanya kemampuan berfikir itulah yang tidak berkembang di keluargaku, diIndonesiaku (sampai hari ini???).
Kalau begini, susahkan membangun indonesia????
Menjadi Perempuan
Suatu hari saya bertanya pada Lin, seorang mahasiswi cantik jurusan bahasa Indonesia di HUFS, tentang perasaannya sebagai perempuan Korea.
“yeaah biasa saja.” Katanya
Saya tak tahu apakah dia membaca dan mengerti soal isu-isu kesetaraan, feminisme dan sebagainya. Tetapi sepertinya dia memang tidak mengikuti persoalan itu, jadi jawabannya murni. Dia merasa biasa saja sebagai perempuan.
“Biasa gimana sih Lin?” Tanya saya.
“Ya, begitulah. Perempuan Korea mesti bisa memasak, menjaga penampilan, tidak terkena wajib militer dan akhirnya nanti harus pintar menjadi istri, melahirkan, mengasuh anak, bergaul dengan keluarga suami. Semua biasakan? Ya begitulah.” Jawab lin santai.
Tapi adakah dia pernah merasa sedikit dinomorduakan sebagai anak perempuan, dibanding saudara laki-lakinya?
Sejenak ia terdiam. “Saudara laki-laki saya memang lebih diprioritaskan. Di Korea, anak laki-laki adalah orang yang paling bertanggungjawab terhadap keluarganya. Jadi dia juga harus dilebihkan dalam beberapahal. Pembagian warisan, kesempatan sekolah dan ruang dalam rumah.”
“Apakah anda tidak merasa itu sesuatu yang membuat iri?Apakah dengan demikian juga anda merasa tidak terlalu bertanggungjawab dengan keluarga anda?”
“Kita asik-asik saja. Yang penting suara kita didengar jawabnya enteng”
Waduuuh. Kamu benar sekali Lin.
Saatnya kita menikmati perbedaannya?Yang pasti kita jangan tertekan dan mempunyai hak suara dan didengarkan.
Waktu yang Terampas
Perempuan itu Aku
Begitu dia membuka jendela di lantai delapan apartemen berlantai sepuluh, sebuah jalan layang terbentang lurus menuju kampungnya, Mudiak.
Dia mengusap matanya, mata yang lelah. Tetapi cukup terang untuk melihat jalan pulang.
Hawa dingin menerjang paru-parunya, minus sepuluh derajat celcius. Tetapi dia tak menggigil, hanya sebentar memperbaiki letak kancing yang timpang pada krah baju model sanghai yang dia kenakan.
“Jalan ini ada, tetapi tak mungkin kutiti pulang. Aku belum akan pulang…tak ingin pulang.” Bisikan hatinya se dingin angin musim kala itu.
Tiba-tiba jalan yang terbentang itu meliuk, menyudu ruas-ruas di jari kakinya. Mengelus semanja kucing yang ingin disayang. Hatinya tersentuh.
Ingin tetap beku.
“Aku belum bernama, lalu apa yang bisa jadi penanda?”
Malam semakin dingin bercampur salju yang turun seperti kapas melayang malas
Perempuan itu menutup kembali pintu apartemennya
Menggulung jalan yang terbentang menuju kampung.
Perempuan itu, aku!
Gwangju,11/8/08
Sejumput Tanah Pekuburan Bapak
Ibunya berkata:
“Sebelum pergi, jenguklah kubur bapakmu. Ambil sejumput tanahnya dan simpanlah di lipatan payudara”
Dia menangisi pesan itu
Kata-kata yang menguap di otak tetapi menjarumi hatinya
Sejumput tanah pekuburan Bapak….
Lalu dia tinggalkan kampung
Berjalan tanpa azimat
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
-
Arsip
- Mei 2009 (1)
- Februari 2009 (2)
- Januari 2009 (2)
- Desember 2008 (6)
- November 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS